Solopos.com, JAKARTA – Setelah menembus level 5.100 pada pembukaan perdagangan pada hari Selasa (6/6/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot. Penguatan untuk beberapa hari cenderung melambat dan berakhir terkoreksi 0,7 persen di level 5.035.

Kurang dari 10 menit sejak dibuka pada Selasa 09.07 WIB, total transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp1,5 triliun. Sementara itu, jumlah frekuensi perdagangan adalah 82.811 kali. Karena itu, CSPI juga melesat 1,22 persen ke level 5.131.

Namun, pada penutupan sesi perdagangan I, IHSG yang menembus level 5.100 cenderung lamban dan hanya mencatat kenaikan 0,22 persen atau 11,33 poin menjadi 5.081,88.

BPK: Hati-hati dengan Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional bisa jadi Century Volume II

Pada sesi II atau penutupan perdagangan harian, Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,7 persen atau 35,5 poin menjadi 5.035,05. Sepanjang hari ini, IHSG bergerak di kisaran 5023.77-5.139.41.

257 Saham Melemah

Nilai total transaksi perdagangan saham mencapai Rp 11,65 triliun dengan frekuensi 933.570 transaksi. 201 saham naik, 257 saham melemah, dan 127 saham stagnan.

Saham yang diperdagangkan dengan nilai terbesar adalah kapitalisasi besar seperti BBRI (nilai saham turun -2,73 persen) sebesar Rp831,9 miliar dan BBNI (+0,62 persen) Rp707,1 miliar.

Manajemen Sikap Melarang Anak-Anak Pergi ke Mal di Solo, Siap Melaksanakan tetapi Bingung!

Selain itu, saham BBCA (-1,61 persen) Rp589 miliar, TLKM (-2,79 persen) Rp550,6 miliar, dan BBTN (-0,43 persen) Rp397,3 miliar.

Kepala Riset di MNC Sekuritas, Thendra Chrisnanda, mengatakan bahwa penguatan yang terjadi selama dua minggu terakhir cukup tinggi dan potensi penguatan IHSG dinilai relatif terbatas di 5.100.

Menurut Thendra, ini lebih disebabkan oleh kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena likuiditas bukan faktor fundamental atau faktor lainnya. Dengan demikian, kondisi ini akan dibatasi oleh saturasi relatif atau pembelian overbought saat ini.

Solo Electronic Temple Shop Sedang Direnovasi, Bahkan Ludes Terbakar

Gelombang Kedua Khawatir Covid-19

"Di mana kita menilai risiko lebih besar daripada hadiah," katanya Bisnis.com, Selasa (9/6/2020).

Lebih lanjut, CSPI sangat rentan terhadap penurunan karena aksi aksi ambil untung alias ambil untung. Selain itu, estimasi pendapatan perusahaan-perusahaan publik pada kuartal kedua 2020 yang diprediksi buruk dapat menjadi faktor beban pergerakan IHSG ke depan.

Pekerja di Prambanan Klaten Positif 19 Covid, 30 Orang Kontak Fisik Ikuti Tes Cepat

"Selain itu kami juga melihat potensi untuk meningkatkan ketegangan geopolitik dan ancaman terhadap gelombang kedua Covid-19," tambahnya.

MNC Securities merekomendasikan investor untuk menjual dengan kekuatan dengan peningkatan yang saat ini terjadi. Investor juga harus dapat dengan bijaksana mempertahankan level tunai untuk mengantisipasi pembalikan.

Pos Setelah Meroket, JCI merosot ke 5.035 di Perdagangan 9 Juni, Ada apa? muncul pertama kali di Solopos.com.