JawaPos.com – Saham PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) tampaknya masih "tidur" di level Rp50 per saham atau disebut sebagai saham saham sejak 2,5 tahun lalu. BEKS adalah bank yang akan bergabung dengan PT Bank Pembangunan Daerah di Jawa Barat dan Banten (Bank bjb).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada akhir Mei 2017 saham BEKS tidak bisa bergerak dan mandek di level Rp50 per saham. Bahkan, sejak resmi beroperasi dengan nama Bank Banten, saham BEKS masih memiliki level Rp90 per saham. Nama Bank Banten digunakan setelah akuisisi Bank Pundi Indonesia oleh Pemerintah Provinsi Banten melalui PT Banten Global Development pada 29 Juli 2016.

Saham BEKS bahkan menyentuh Rp 109 per saham pada 12 Agustus 2016. Namun, sebulan setelah itu, saham BEKS turun dan masuk ke klub gila.

Namun kemudian, harga saham perlahan-lahan naik ke level Rp79 per saham pada November 2016. Kemudian, saham BEKS turun perlahan hingga turun kembali ke level Rp50 per saham pada pertengahan 2017 hingga sekarang.

Dalam penawaran umum perdana saham atau IPO pada tahun 2001, saham BEKS sendiri ditawarkan dengan harga Rp 140 per saham. Pada saat itu, saham BEKS yang dirilis ke publik adalah 277,5 juta saham dan perusahaan memperoleh dana IPO sebesar Rp 38,85 miliar.

Sebanyak 51 persen saham BEKS saat ini dimiliki oleh PT Banten Global Development sebagai pemegang saham pengendali. Sementara 49 persen adalah saham publik.

Dilaporkan dari Antara, Pada hari Kamis (23/4) ditandatangani Letter of Intent (LoI) antara Gubernur Banten Wahidin Halim sebagai pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) BEKS dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sebagai Bank PSPT bjb terkait dengan rencana merger bisnis BEKS ke dalam Bank bjb.

LoI menyatakan bahwa BEKS dan Bank BJB akan melakukan kerjasama bisnis. Bank bjb akan mendukung kebutuhan likuiditas BEKS, antara lain dengan menempatkan dana pasar uang line dan / atau membeli aset secara bertahap sesuai dengan persyaratan tertentu.

Selama proses merger bisnis, BEKS dan Bank BJB akan terus beroperasi secara normal untuk melayani kebutuhan pelanggan dan layanan keuangan publik. Direktur Pelaksana BEKS Fahmi Bagus Mahesa dalam pengungkapan informasi di BEI mengatakan, setelah realisasi penggabungan bisnis BEKS ke Bank bjb, itu akan menghasilkan transfer aset, kewajiban, dan ekuitas BEKS sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku.

"Informasi mengenai target waktu untuk mengimplementasikan aksi korporasi akan disampaikan jika proses kombinasi bisnis telah berjalan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku," kata Fahmi.

Tonton video menarik berikut: