JawaPos.com – Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di zona merah pada Senin (20/4). Namun demikian, nilai tukar rupiah membaik karena penguatan di pasar SUN (Surat Utang Negara).

Pada penutupan sesi 1, CSPI telah menembak 20 poin atau 0,4 persen di level 4.654,85. Namun, semuanya berbalik setelah istirahat tengah hari. Hingga sesi 2 berakhir, IHSG turun 58 poin atau 1,2 persen ke 4.575,9 dengan membukukan penjualan bersih USD 37 juta.

Di sisi lain, tren positif terjadi pada perdagangan rupiah di pasar valuta asing. Mata uang Garuda ditutup naik 0,34 persen di level Rp 15.413 per USD. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penguatan rupiah didukung oleh penguatan di pasar SUN. Tercatat, imbal hasil dengan tenor 10 tahun turun 1 basis poin (bps) menjadi 7,78 persen.

Josua mengatakan, prospek pemulihan ekonomi Indonesia masih bagus dibandingkan dengan negara lain. "Dengan pertimbangan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat," katanya.

Selain itu, pelebaran defisit anggaran pemerintah Indonesia diperkirakan hanya berlaku pada tahun 2020 hingga 2022. Sementara itu, pada tahun berikutnya batas defisit fiskal akan ditetapkan kembali pada level 3 persen dari PDB (PDB domestik) produk).

"Ini menunjukkan bahwa manajemen fiskal dan manajemen utang Indonesia cenderung lebih hati-hati (berhati-hati, Red) dibandingkan dengan negara maju dan negara berkembang lainnya yang sudah memiliki rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi sebelum keberadaan Covid-19," dia menjelaskan.

Dengan fundamental ekonomi seperti itu, Josua memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan mencapai Rp 15 ribu per USD hingga akhir tahun.