JawaPos.com – Kasus megakorupsi investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terus mengungkap fakta baru. Saksi ahli Kepala Divisi Pengatur dan Operasi Perdagangan Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy, dalam sidang tindak lanjut Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Rabu (19/8) di ruang Hatta Ali, Pengadilan Negeri Jakarta.

Irvan menyatakan ada upaya yang dilakukan beberapa pihak untuk memanipulasi harga saham portofolio Jiwasraya. Pengamatan Bursa Efek Indonesia (BEI), modus yang dilakukan terkait dengan manipulasi perdagangan saham sehingga harga saham bakal naik signifikan. Namun, lanjut Irvan, secara fundamental perusahaan yang kinerjanya tidak bagus, mengalami kerugian bahkan tidak layak untuk diinvestasikan.

“Tadi Saudara menyebutkan ada upaya manipulasi transaksi saham IIKP, TRAM, BJBR, BTEK. Saya mau tanya, detail umum upaya manipulasi itu,” tanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada Irvan.

  • Baca juga: Direksi Jiwasraya dinilai memiliki kekuatan untuk mengubah strategi investasi

“Secara umum saya tidak menjelaskan satu per satu, saya tidak ingat berapa share. Tapi ada upaya manipulasi oleh sekelompok pihak berdasarkan dokumen Anggota Bursa (AB) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), misalnya alamat yang sama, tempat kerja yang sama, "jawab Irvan kepada jaksa.

Rangkaian manipulasi lainnya terdeteksi dan terdapat modus ketika kolusi dilakukan oleh sekelompok orang. Terungkap bahwa beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan satu pemilik memiliki alamat dan tempat kerja yang sama.

BEI, kata Irvan, sebenarnya mencium adanya aktivitas transaksi dan pergerakan saham yang bergerak tidak normal. Hal itu dilakukan melalui pemantauan Unusual Market Activity (UMA) jika harga saham emiten naik atau turun secara signifikan.

"Di UMA pola transaksi sekuritasnya berbeda, investor bisa menilai sendiri, kita hanya membatasi transaksi untuk periode perdagangan tertentu, ini untuk mengingatkan investor agar mereview kembali," ujarnya.

Dalam kasus korupsi Jiwasraya, ada enam orang yang menjadi tersangka. Keenam orang tersebut antara lain: Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008-2018, Hendrisman Rahim, Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2008 – 2018 periode Hary Prasetyo dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan.

Keenam orang tersebut didakwa melakukan rangkaian kegiatan bersama yang menyebabkan PT Jiwasraya gagal membayar nasabah yang telah mengalami kerugian tidak kurang dari Rp 52 triliun, terutama melalui produk JS Saving Plan yang dibuat Jiwasraya yang kemudian dipimpinnya. oleh Hendrisman Rahim, bahkan lebih buruk.

Atas perbuatannya, keenam terdakwa tersebut didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat 1 sd 1 jo. Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Sementara itu, Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro juga didakwa dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU) atas tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi di PT AJS yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 18 triliun. Heru dan Benny Tjokro disebut-sebut telah menghabiskan uang hasil korupsi di PT AJS.

Atas perbuatannya, Heru dan Benny Tjokro juga didakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pencucian Uang (TPPU).