JawaPos.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan, hingga Kamis (23/4), realisasi pembelian kembali saham tanpa melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mencapai Rp 876 miliar. Pencapaian ini hanya sekitar 4,5 persen dari rencana pembelian kembali saham yang direncanakan sebesar Rp19,32 triliun.

"Total nilai pembelian kembali yang telah dilakukan oleh perusahaan milik negara adalah Rp 181 miliar atau 1,8 persen dari total rencana pembelian kembali semua perusahaan milik negara," kata Inarno Djajadi, Direktur Pelaksana Bursa Efek Indonesia (BEI). Antara, Jumat (24/4).

Sementara itu, realisasi pembelian kembali perusahaan non-BUMN adalah Rp694 miliar atau 7,6 persen dari total rencana pembelian kembali semua perusahaan non-BUMN. Sebanyak 65 perusahaan, yang terdiri dari 12 perusahaan milik negara dan 53 perusahaan milik negara, direncanakan untuk melakukan pembelian kembali.

Sebanyak 12 perusahaan BUMN berencana melakukan buyback Rp10,15 triliun. Sementara itu, perusahaan non-pemerintah berencana untuk membeli kembali Rp. 9,16 triliun.

Jumlah perusahaan yang telah membeli kembali saham 42 perusahaan, terdiri dari tujuh perusahaan milik negara dan 35 perusahaan non-negara. Sementara itu, 23 perusahaan belum melakukan pembelian kembali saham, yang terdiri dari lima perusahaan BUMN dan 18 perusahaan non-BUMN.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 9 Maret 2020 telah mengizinkan semua emiten atau perusahaan publik untuk membeli kembali saham tanpa persetujuan RUPS. Ini dilakukan dalam upaya memberikan stimulus ekonomi dan mengurangi dampak berbagai tekanan pada pasar.

OJK mengadopsi kebijakan tersebut karena memperhatikan kondisi perdagangan di bursa saham, yang dari awal 2020 hingga awal Maret terus mengalami tekanan yang signifikan. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta pada waktu itu sejalan dengan perlambatan dan tekanan ekonomi global, regional dan nasional, sebagai akibat pecahnya virus corona baru atau COVID-19 dan melemahnya dunia. harga minyak.