JawaPos.com – Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di level 2,5 persen. Angka itu adalah setengah dari proyeksi ADB tahun lalu yang mencapai 5 persen.

Penyebab turunnya proyeksi tentu saja adalah pandemi Covid-19. Direktur ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein mengatakan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia sangat kuat. Namun, epidemi global telah mengubah arah ekonomi. "Kondisi lingkungan eksternal telah memburuk dan permintaan domestik telah melemah," katanya, Jumat (3/4).

Menurut ADB, ekonomi Indonesia akan pulih tahun depan. Optimisme ini dapat diwujudkan jika pemerintah melaksanakan kebijakan yang tegas dan efektif dalam menanggulangi pandemi. "Ekonomi Indonesia secara bertahap dapat kembali ke jalur pertumbuhannya tahun depan," katanya.

ADB juga memperkirakan inflasi akan meningkat hingga 3 persen tahun ini. Inflasi tahun lalu rata-rata 2,8 persen. Kemudian pada 2021 inflasi diproyeksikan turun lagi menjadi 2,8 persen.

Melihat kondisi ekonomi pada minggu pertama April, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi 0,2 persen bulan ke bulan (MtM). Angka ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya di level 0,1 persen (MtM). Sementara itu, inflasi tahunan adalah 2,8 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, komoditas pokok menjadi penyumbang mayoritas inflasi.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah diperdagangkan pada Rp 16.464 per USD kemarin, sedikit lebih tinggi dari 2 April. Perry menganggap nilai tukar rupiah saat ini memadai. Dia percaya nilai tukar rupiah stabil sepanjang tahun ini.

"Faktanya, itu akan cenderung menguat menjadi sekitar Rp. 15.000 per USD pada akhir tahun ini," kata alumnus Universitas Negeri Iowa itu.

Perry percaya pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih rendah dari 2,3 persen tahun ini. Dia menegaskan, BI telah menyusun langkah strategis untuk mengantisipasi kondisi ekonomi terburuk bersama pemerintah, OJK, dan LPS. Kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) juga selesai di zona hijau.